NANA ANANG SUJANA Kisah Sukses BOSAN JADI PEGAWAI

BEKASI, SGN-Sujana (panggilan sehari-hari) pemilik usaha boneka bermerek Hayashi Toys menuturkan, sebelum membuka usaha ini saya sering mengalami kegagalan dalam berusaha, namun kegagalan tersebut tidak membuat saya kalah. saya selalu bangkit hingga mencapai seperti sekarang.

Dalam Melakukan usahanya ini, Sujana selalu menggunakan motto “selagi wanita masih bisa hamil pabrik boneka selalu berkibar”. motto itu yang selalu dia pegang, pengusaha UKM yang telah menjadi maskot UKM di kota Bekasi selalu bersifat low profile, dan selalu tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah di capai saat ini. baginya apa yang telah di perbuat masih selalu kurang. dia membandingkan apa yang telah  diperbuat sang pencipta bagi dirinya.

Perusahaan ini dimulai sejak tahun 80-an, saat saya di PHK dan bosan jadi pegawai saya memulai usaha ini dengan berbekal modal Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah). saya memulai bisnis tanpa ada karyawan serta peralatan yang sangat minim. Namun berkat kegigihan dan ketekunannya usaha ini telah menjadi besar hingga saat ini karyawannya telah menjadi 100 orang. saat ini perusahaan kami berlokasi di jl. Blue Safir Raya kecamatan Rawa Lumbu, adapun alasannya kenapa saya membuka usaha boneka ini dikarenakan telah membanjiri industri mainan dari luar Negeri. kenapa Bangsa kita selalu menggunakan produk luar Negeri???? kenapa kita tidak mencoba produksi mainan bangsa kita sendiri?? itulah alasan saya terjun di industri boneka saat ini.

Adapun nama Hayashi yang menjadi maskot industri mainan kami, diambil dari salah seorang bangsa jepang yang dengan kegigihannya dia berhasil menjadi pengusaha di bidang koran yang semula dia hanya menjadi loper koran, atas kegigihan itu pula sujana memakai nama Hayashi Toys di setiap produk bonekanya.

Kini Hayashi Toys telah mencapai omset penjualan milyaran rupiah dalam setahun. kedepanya Hayashi Toys bekerjasama dengan institut Teknologi surabaya dalam mengembangkan boneka berbentuk robot.

Adapun mottonya yang dapat dibagikan bagi wirausahawan pemula, jangan pernah takut dalam menghadapi ketakutan hidup dan jangan pernah menghindari ketakutan hidup, karena ketakutan hidup takkan pernah sirna, walaupun kita menghindarinya. Hadapi ketakutan tersebut dengan penuh keberanian dengan disertai doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa

Dimuat tgl 8 desaember 2011

@anang sujana

 

Nana Anang Sujana, Pemilik Hayashi Toys Korban PHK Yang Kini Bisnisnya Beromset Rp 1,8 Milyar Per Bulan

Pemutusan hubungan kerja (PHK) bukan kiamat. PHK bisa menjadi awal kesuksesan. begitu pula yang dialami Nana Anang Sujana. setelah di berhentikan sebagai tenaga serabutan dari perusahaannya, ia justru menjadi pengusaha boneka sukses dengan omset Rp 1,8 miliar sebulan!

“Nyalakan semangatmu!” seruan itu menutup iklan salah satu produk rokok. iklan yang bercerita tentang sukses seorang korban pemutusan hubungan kerja (PHK) tersebut mirip yang dialami Nana Anang Sujana (40). PHK telah menjadi titik balik kehidupannya, dari buruh serabutan di perusahaan boneka menjadi juragan perusahaan membuat boneka, dengan omset miliaran rupiah.

“Tahun 1995 saya di-PHK dari perusahaan tempat saya bekerja, perusahaan pembuatan boneka dari kain, “tutur Sujana, ketika ditemui di tempat usahanya, kawasan rawa lumbu, Bekasi. Dipabrik itu, ia telah bekerja sebagai buruh serabutan sejak tahun 1980-an. bertahun-tahun bekerja sebagai sebagai tenaga serabutan membuatnya belajar memahami teknik membuat boneka dari kain.

Ketika diberhentikan tahun 1995, ia kecewa dan nyaris putus asa. Hingga setahun ia tidak melakukan apa-apa. tiba-tiba saja terfikir olehnya, mengapa tidak membuat boneka dari kain saja? karena itulah keterampilan yang dipelajarinya bertahun-tahun sampai di-PHK.

Bermodal Rp 500 ribu, ia membelli mesin jahit dan bahan seadanya. ia kemudian menawarkan boneka-boneka buatanya ke toko-toko di mal dan pasar tradisional. dalam kerja sama dengan para pedagang itu ia menggunakan sist konsinyasi. setahun kemudian, barulah tampak hasil usahanya. sedikit demi sedikit ia mulai mendapat pesanan dari para pedagang di mal-mal dan pasar tradisional tersebut.

Boneka produksinya macam-macam bentuknya, seperti boneka binatang (kucing, sapi, dan kelinci), buah-buahan (strauberi,semangka), tokoh kartun seperti Tazmania, Tweety, Winny The pooh, dan sebagainya. selain boneka juga tempat tisu, bantalguling, tas, head rest, namun semuanya masih berbentuk dasar boneka. kelebihan produknya adalah bentuknya yang mirip aslinya, dan detilnya yang teliti. itu yang membuat buatanya laris.

Ia kemudian mmperbesar pasar dengan membuka kios-kios sendiri di pusat perbelanjaan, seperti GIANT.sebelumnya krisis menghantam indonesia tahun 1998-1999, Ia bahkan telah membuka 17 kios dibeberapa pusat perbelanjaan dengan modal Rp 50 juta. dipuncak sukses, tiba-tiba krisis menghantam Indonesia. apalagi kerusuhan meletus di jakarta dan sekitarnya, termasuk beberapa insiden pemboman.

“Peledakan bom membuat orang enggan datang ke mal, akhirnya semua kios di mal-mal itu di tutup karea merugi,” tutur sujana. yang tersisa hanya ditempat usahanya di rawa lumbu.

Setelah krisis mereda, ia mulai ekspansi lagi. kali ini ia agak berhati-hati, tidak terlalu ekspansif. hanya tiga kios yang dibukanya, yakni di jl. Moh Toha, Tangerang, di Jl. Raya Ciawi, Ciawi,  dan Jl. Satiabudi Bandung. Setelah  banyak yang membeli putus, Sujana pun tidak menitipkan barangnya secara konsinyasi, sehingga keuangan usahanya makin sehat.

“Saya bersyukur kepada Tuhan karena berkat usaha ini saya bisa mempunyai tiga mobil dan enam rumah, tiga rumah diantaranya di pakai dipakai untuk kegiatan usaha ini,” katanya. ketiga rumah yang terletak di Rawa Lumbu itu dijadikan “pabrik” pembuat boneka kain.

Selain tiga kios penjualan boneka, ia juga membuka kios ikan hias. “ikan ini hobi’, katanya.

Ia patut bersyukur, sebab bisnis pembuatan boneka dan alat rumah tangga berbentuk dasar boneka yang digelutinya kini  beromset rata-rata Rp 1,8 miliar sebulan. Namun masih ada satu keinginan yang belum terwujud, membuka franchise pembuatan boneka dengan brand miliknya, Hayashi Toys.

Modal awal. Sujana membuka bisnis dengan modal awal Rp 500 ribu. Saat itu dia belum merekrut karyawan. Semua dikerjakan sendiri bersama istrinya. Ketika pesanan semakin banyak, ia mulai berfikir untuk memperbesar bisnisnya. Untuk itu ia meminjam uang pada temannya sebesar Rp 5 juta, untuk menambah modal dan karyawan.

Ternyata itu tidak cukup. Untuk membeli bahan baku dan menambah karyawan, ia kembali meminjam Rp 10 juta, ternyata itu belum cukup juga, kembali ia meminjam uang untuk modal sebanyak Rp 15 juta.

Baru pada tahun 2002, melihat prospek bisnisnya makin bagus, ia memberanikan diri untuk menambah karyawan. Tahun 2005 ia memberanikan diri untuk meminjam uang ke bank dengan jumlah besar yakni Rp 400 juta.

Prospek dan Persaingan.

Menurut Sujana, prospek usaha boneka kain ini masih sangat bagus. Meski pelaku usaha sejenis cukup banyak namun dia menganggap masih belum cukup untuk memenuhi permintaan pasar. “Saya sendiri paling baru bisa mengisi 2,5% pasar,” katanya. Di bekasi, menurut perkiraanya, ada 52 pengusaha boneka. “Mungkin secara nasional ada 500-an produsen boneka,” imbuhnya.

Sujana selalu mengeluarkan bentuk-bentuk baru pada desain bonekanya setelah ia mendapat inspirasi atau desain baru, untuk memperoleh inspirasi model, biasanya ia melihat gambar-gambar seperti tokoh kartun, hewan yanng ada di televisi, setiap mimggu, ia sedikitnya mengeluarkan dua jenis produk baru. Kadang barang pesanan konsumen yang bentuknya bagus dan menarik juga akan diperbanyak olehnya untuk dijual dipasaran. Namun untuk saat ini yang seag ngetrend adalah boneka bantal dengan harga Rp 30.000

Mengenai persaingan, ia tidak terlalu mengambil pusing. Kualitas produk dan kreativitas pembuat yang akan menentukan kemenangan dalam persaingan tersebut.

Bahan Baku. Awalnya bahan baku yang digunakan masih diimpor dari Amerika dan Korea. Namun tiga tahun terakhir, seiring dengan munculnya produsen-produsen bahan baku boneka rasfur, felt dan sebagiannya ada di tangerang, karawang dan bandung, ia sudah bisa mendapatkan bahan-bahan baku itu dari dalam negeri. Setelah terbentuk lalu ia hanya menambahkan ornamen-ornamen penghias seperti bordir, renda dan sablon dalam hiasan bonekanya setelah itu baru diisi dakron dan silikon.

Untuk menghasilkan boneka yanng baik, dibutuhkan ketelitian dan kecermatan mengombinasikan warna. Dalam satu hari, Hayashi Toys bisa memproduksi 1.500 boneka aneka jenis. Harga yang ditawarkan dari Rp 5.000 sampai yang termahal Rp 250.000. Ada 500 jenis produknya, mulai boneka berbentuk manusia, hewan sampai barang rumah tangga seperti tempat tisu dan aneka tas. Untuk pembelian secara cash, jika membeli eceran akan diberi potongan 20% dari harga yang di tawarkan. Sementara untuk pembelian grosir ia memberikan potongan 10-15% dari harga. Kok begitu???? “kalau beli grosir kan banyak, sedangkan eceran si pembelli datang ke sini juga sudah pakai ongkos,” katanya beralasan.

Untuk saat ini dia tidak menemukan kendala yang berarti karena menurunya berfikir positif dan cepat adalah cara tepat mengatasi berbagai kendala. Namun menurutnya kendala terberat dalam hidupnya menurutnya adalah melawan sifat malas manusia. Oleh sebab itu dia mencoba membuang jauh-jauh sifat itu.

Pemasaran.

Langkah yang diambil dalam mempromosikan produk boneka buatannya awalnya melalui mulut ke mulut, dan konsinyasi ke toko-toko. Namun sekarang ini dia telah membuka beberapa toko diantaranya diluar kota dan mengirim produknya ke beberapa daerah, antara lain bandung, surabaya dan padang. Dia juga menaruh produknya di beberapa mal di bekasi dan jakarta, diantaranya Giant, Mall Bekasi, Bekasi square Factory Outlet Boneka dan toko-toko boneka dan merchandise anak.

Untuk luar kota hampir seluruh Nusantara kecuali Papua. dan daerah seperti Bandung, Surabaya dan padang adalah pemesan paling banyak saat ini.

Ia menilai, promosi lewat media cukup efektif. Untuk itu ia aktif melakukan promosi yang murah dengan menjadi pembicara pada seminar-seminar usaha kecil dan menengah dan liputan media. Saat ini,  Sujana tengah menjajaki bisnis lewat media online untuk mendorong usahanya lebih pesat.

Tenaga Kerja. Saat ini ia memiliki 108 tenaga kerja, 10 diantaranya tenaga kerja ahli atau profesional. Selebihnya yang berjumlah 98 tenaga kerja amatir. Setiap tenaga kerja profesional dia gaji Rp 1,5 juta perbulan sedangkan untuk tenaga kerja amatir ia memberikan gaji Rp 600-700 rbu perbulan. Ia ingin sekali menambah pekerjanya menjadi 150-200 orang pada tahun 2010. Untuk mesin jahit yang ia gunakan adalah mesun jahit besar yanng biasa dipakai kebanyakan konveksi (seperti merek Juki dan Brother). ia memberi mesin dipasar pagi. Selain itu menurutnya sumber daya manusialah yang paling banyak berperan. Karena pada dasarnya usahanya hanya masih memakai alat-alat yang sederhana. Untuk alat pemotong dan pembentuk bahan saja Sujana menggunakan alat buatannya sendiri.

Page 80 of 82« First...102030...7879808182