Belajar dari Popularitas Flappy Bird

52flappydeadKreator sekaligus pengembang game Flappy Bird – Dong Nguyen, pada hari Minggu, 9 Pebruari 2014 yang lalu telah mengumumkan secara resmi penarikan aplikasi game fenomenal tersebut dari 2 toko aplikasi, Apple Apps Store dan Google Play Store. Di akun twitter pribadinya, Dong tidak menjelaskan secara rinci penyebab tidak melayangnya lagi burung yang menggemaskan dan telah menggemparkan dunia permainan itu. Ia hanya menyebutkan bahwa game tersebut telah membuat kehidupannya ‘terganggu’.

I can call ‘Flappy Bird’ is a success of mine. But it also ruins my simple life. So now I hate it.
— Dong Nguyen (@dongatory) February 8, 2014

Flappy Bird merupakan game yang adiktif dan populer. Menurut para pencinta permainan ini, walaupun tingkat kesulitannya tinggi, namun nyatanya Flappy Bird telah diunduh sebanyak 50 juta kali sejak diluncurkan, padahal pengembangnya independen, bukan dari pengembang yang namanya sudah mendunia sepeeti Rivio. Namun kepopuleran ini membuat Dong tertekan, kemudian menarik burung itu dari peredaran.

Terlepas dari isu-isu yang menyebutkan bahwa Dong diancam dibunuh karena meledaknya permainan itu, kita dapat menarik pelajaran berharga dari kasus semacam ini.

Kesuksesan, perlu mental yang kuat. Dibalik kesuksesan seseorang atau suatu produk pasti bermunculan pihak-pihak yang tidak senang, lalu menjelek-jelekkan atau melakukan persaingan secara negatif. Karena itulah, perlu kesiapan secara mental untuk dapat menghadapi efek negatif yang timbul dari suatu kesuksesan, selain siap secara fisik.

Kesiapan fisik bisa dilakukan dengan memperkuat tim, menambah modal usaha atau meningkatkan mutu produk. Sedangkan semangat yang tinggi, rasa percaya diri dan tidak mudah menyerah perlu dipupuk dan dijaga agar siap mental menghadapi kesuksesan.

Apakah Anda sudah siap sukses?

Semangat Pantang Menyerah

30FB dan WhtasappBaru-baru ini dilansir berita bahwa Facebook yang digawangi oleh Mark Zuckerberg telah mengakuisisi WhatsApp dengan angka yang amat fantastis, 19 Milyar USD atau bila dikalikan dengan kurs rupiah 11 ribu per dolar Amerika, maka nilai itu setara dengan Rp. 209 trilyun.

Seperti diketahui, Facebook menarik WhatsApp untuk memperkuat raksasa jejaring sosial itu setelah aplikasi Facebook Messenger tidak terlalu berhasil di pasaran.

Tapi, tunggu. Kita tidak akan membicarakan angka yang membuat bola mata hampir meloncat ke luar itu dan mencemaskan apa kelanjutan akuisisi itu. Coba simak kisah di balik pengakuisisian ini.

Beberapa tahun yang lalu, salah satu pendiri WhatsApp, Brian Acton melamar bekerja di Facebook setelah sebelumnya memegang pengalaman sebagai Insinyur Senior di Yahoo. Namun Acton ditolak mentah-mentah oleh mas Zuckerberg. Tak cuma oleh Facebook, Acton pun ditolak oleh Twitter. Lalu ia bertemu dengan rekan lamanya di Yahoo, Jan Koum, dan kemudian mereka membuat aplikasi WhatsApp di tahun 2009.

Yang harus digarisbawahi dari kisah Acton ini adalah jiwanya yang pantang menyerah. Lihat saja. Penolakan Facebook dan lalu Twitter tidak membuat Acton menjadi kecewa, lemah dan berputus asa. Penolakan yang dihadapinya malah mendorongnya berusaha lebih keras dan menuntunnya membuat aplikasi baru, yang pada akhirnya malah dilirik oleh Facebook.

Kesuksesan mempunyai pola yang sama dan berulang, begitu pula kegagalan. Kita bisa belajar dari orang-orang sukses, juga dari orang-orang yang mengalami kegagalan. Cermati polanya. Tiru dan adaptasi pola sukses, dan belajarlah mengatasi masalah dari orang yang pernah gagal. Penolakan atau kegagalan bukanlah sesuatu hambatan untuk lebih maju bila kita berhasil mengatasinya dengan semangat pantang menyerah.

Page 8 of 82« First...678910...203040...Last »