Kreatipreneur

Tak lahir dari keluarga yang berkecukupan, membuat Anang Sujana sudah terbiasa hidup susah. Namun, bagi pendiri sekaligus pemilik perusahaan mainan Hayashi Toys, produsen boneka Modo Modi, tak ada pilihan lain bagi ‘orang susah’ kecuali harus berhasil. Latar belakang ‘orang susah’ ini membuatnya tak berpikir panjang bagimana langkah untuk mengubah nasib. Dengan modal ‘hanya’ Rp 500 ribu pada tahun 1998, kini pengusaha lulusan SMA itu sukses memiliki 49 mitra toko, 18 mitra produksi, tiga mitra finishing dan dua mitra mobile. Yuk, ikuti rahasia bisnis Anang Sujana.

TAK ADA TEORI BAKU MULAI BERBISNIS

“Kalau lahir dari kemiskinan, maka peluang sukses dalam bisnis adalah 99 persen. Kan dipaksa harus kerja keras, hingga akhirnya jadi pengusaha sukses,” tutur Anang, dalam Bincang Bisnis Kreatipreneur Republika di Auditorium Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan, Selasa (7/2.

Anang mengungkapkan setiap orang sebenarnya bisa terlahir menjadi seorang pengusaha. Namun, kuncinya adalah ‘mau atau tidak’, “Kuncinya hanya yakin dan jangan takut gagal,” ujar dia. Menurutnya, untuk memulai usaha langkah awal yang dilakukan adalah membuang jauh-jauh persepsi kegagaln. Pikiran buruk mengenai rintangan hanya akan membuat ragu. Ia tak ingin ketakutan dan keraguan membelenggu kreativitasnya.

Anang mewanti-wnti, semua keraguan hanya akan ada ketika belum dicoba. Yang terpenting, menjadi wirausaha adalah harus merdeka dan dinamis. Kebanyakan yang bembuat gagal dalam berbisnis adalah karena orang terlalu banyak berfikir teoritis. “Kalau di depan kita ada tembok ya hancurkan saja. Jangan terlalu banyak berfikir dan berteori,”kata dia. Sebab, dalam bisnis apapun, tak ada teori yang baku. Teori sukses di bisnis A, belum tentu bisa diterapkan di bisnis B C, dan sebagainya.

Bagaimana bila terbentur pada rintangan? Pengusaha kelahiran Bogor, 5 Juni 1969 ini menyarankan untuk berfikir sejenak mengambil langkah. Jika rintangan kecil,perlu disingkirkan. Namun, jika rintangannya besar, mungkin bisa dipertimbangkan untuk mengambil jalan lain. Kalaupun gagal, jalan keluarnya hanya satu, yaitu mencoba dan mencoba lagi hingga berhasil. Anang yakin selalu ada jalan keluar dalam setiap masalah.

Awal mula terjun di dunia boneka, anak ketiga dari lima bersaudara ini mengaku berawal dari keterpaksaan. Keinginannya sebenarnya ingin masuk di dunia otomotif. Dia akhirnya bekerja di perusahaan bangunan PT Djabesmen. Anang hanya empat bulan. Kemudian beralih ke PT Asiana Inti Industri (AII), produsen boneka. Setelah enam tahun bekerja di perusahaan ini, Anang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Pada 1995, dengan modal pesangon Rp 5 juta dari AII, dia mulai menjual bahan baku pembuatan boneka dan boneka jadi yang dibuat pihak lain. Lokasi bisnis awal menyewa di toko kecil di Goro, Bekasi, dengan brand bisnis ‘Hayashi Toys’.

Tapi, Anang mengaku tak menyukai boneka. “Justru karena saya nggak suka boneka, (maka) tiap hari saya jualin,” katanya berkelakar. Toh, bisnis ini makin lancar. Lambat laun bisa menambah menjadi 17 toko.

Bangkrut, terjerat utang

Di tengah menikmati kesuksesan, krisis 1997-1998, membuat bisnis Anang berantakan. Tempat usahanya di sebuah pusat perbelanjaan mulai ditinggal pengunjung. Anang kehilangan pasar, Hayasi Toys bangkrut dan harus menanggung utang sekitar Rp 50 juta. Anang lantas memeras otak. Mobilnya dijual untuk melunasi utang.

Tapi Anang bertekad tetap membuat boneka sendiri. Dengan modal awal Rp 500 ribu di tahun 1998, ia memproduksi boneka dibantu dua karyawan dan dua mesin jahit. Pinjamannya bertambah. Tapi, dalam tempo lima tahun, bisa dilunasi hanya tiga tahun. Usahanya terus membaik lagi.

Saat itu, ia merasa seperti berada di titk balik. Ia menyadari semua bisnis itu harus diiringi keimanan. “Karena ketika pakai iman, logika sudah nggak dipakai lagi. Saya berfikir semua masalah adalah solusi untuk naik kelas,” kata dia. Semuanya, ia anggap harus direspons dengan positif. Jika respons positif, maka akan berujung ke hal yang positif pula. Dalam bekerja, ia berprinsip agar bekarja melebihi standar. Jika pekerjaannya sudah selesai, ia tak keberatan harus membantu pekerjaan orang lain.

Dengan modal Rp 500 ribu di 1998 kini ia sukses memiliki 49 mitra toko, 18 mitra produksi, tiga mitra finishing dan dua mitra mobile. Prinsip bisnis Hayashi Toys, ‘Selama masih ada wanita hamil, maka bisnis boneka akan tetap jalan’. Meski memproduksi tiga ribu boneka dengan 18 jenis dalam satu hari, di rumahnya justru tak banyak memiliki boneka. Dalam sebulan, omsetnya ratusan juta rupiah. Melalui pemasaran via Twitter @AnangSujana, dia meraup omset Rp 30 juta hanya dalam beberapa hari.

Lulusan SMA

Anang yakin ijasah bukan hal mutlak yang membuatnya sukses. Dengan usahanya yang semakin berkembang, tamatan SMA ini bisa menjalin relari dengan para sarjana bahkan lulusan S2.

Untuk pemasarannya, ia mengungkapkan bukan sebuah kebanggaan jika terlihat bisa menguasai pasar internasional, namun pasar dalam negeri dibombardir boneka impor. Produk terbaru Hayashi Toys yaitu boneka Moda Modi yang jadi maskot SEA Games XXVI. “Saya sedang memproduksi boneka robot,” katanya.

Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta Prof Masyitoh Chusnan mengapresiasi “Bincang Bisnis Kreatipreneur” yang diakadakan Republika, Selasa (7/2). Acara ini dinilai sangat penting, strategis dan inspiratif.

Banyaknya orang yang berpendidikan di Indonesia, kata dia, tidaklah cukup untuk mengangkat martabat Indonesia agar lebih mandiri. “Tapi, kalau nggak kreatif, saya kira kita nggak bisa jadi bangsa yang mandiri,” ujar dia. Kreatif menjadi salah satu cara agar Indonesia tak selamanya jadi kuli di Tanah Airnya sendiri.

Menurutnya, Islam itu memerangi tiga musuh, yaitu kemiskinan, kebodohan , dan penyakit. “Orang Islam jangan miskin, kalau miskin, kita terjajah. Bagaimana kita bisa kaya? Kita tidak boleh bodoh,” tegasnya. Orang Islam harus pintar. Jika bodoh, kesejahteraannya tidak baik.

SUMBER : KORAN REPUBLIKA KAMIS, 9 FEBRUARI 2012

Kumpulan Kultweet @anangsujana “Amanah”

Kenapa di negeri yg kaya raya ini justru kemiskinan begitu banyak? -> http://cot.ag/xspjj3 yg kelaparan justru di atas lumbung padi. Apakah artinya, negeri ini sudah di batasi rejekinya dan keberkahannya Oleh Tuhan? Bisa jadi, karena keadilan semakin sempit di tegakan, sementara para ahli hukum tambah banyak, ahli-ahli ekonomi bertambah banyak, namun kemakmuran hanya milik sebagian org saja. Kalau ketidak adilan sudah merata, maka org yg adil menjadi aneh. Kalau ketidak jujuran sudah merata dan menjadi budaya, maka org jujur menjadi aneh. Kalau kebohongan sudah melembaga, maka org jujur terpinggirkan. Kalau kebohongan dan ketidak adilan sudah menjadi budaya, maka keberkahan di negeri ini akan di persempit. Kita memang manusia yg tdk pernah takut akan azab Tuhan, karena harta dan jabatan telah membutakan mata hati kita. Berdosa memang tempatnya manusia, seberapa besar dosa kita, masih lebih besar rahmat Tuhan. Kalau amanah atau titipan sudah di khianati para pemimpin, maka kita akan menyaksikan negeri yg zholim, dimana keadilan sulit ditegakan, rakyat kecil selalu jadi korban. Pemimpin yg berkhianat adalah yg telah melupakan janjinya di kala belum jadi. Kalau kebohongan sudah merata dan jadi budaya, maka kejujuran menjadi bohong. Kalau keadilan sudah menjadi milik penguasa, maka rakyat tidak berdaya. Utk menjadi pemimpin bangsa ini, pintar saja tdk penting, yg utama adalah kejujuran dan amanah.

Salam
sukses selalu
Nana Anang Sujana
08176793339
twiter @anangsujana
www bonekamurah.com
waralababoneka.com
hayashitoysmart.com

Page 60 of 82« First...102030...5859606162...7080...Last »