Optimistis Peluang Pasar Boneka Terbuka 98 Persen

Nana optimistis prospek bisnis kerajinan boneka masih terbuka lebar. Alasannya sangat sederhana. Dia yakin selama wanita masih bisa hamil, bisnis itu tetap menjanjikan.

MENURUT pengusaha 39 tahun ini, pasar boneka di Indonesia masih sangat prospektif. Yang ada saat ini saja. Kata dia, belum mencukupi kebutuhan pasar. “Saat ini pasar boneka di Indonesia baru tergarap 2 persen saja. Itu artinya masih ada 98 persen peluang terbuka lebar,” ungkapnya serius.

Alasan lainnya, ayah empat anak itu mengaku punya pertimbangan serderhana. “Selama wanita masih bisa hamil maka bisnis boneka adalah pilihan yang terbaik,” ujar penyuka ikan hias itu.

Disinggung soal krisis ekonomi global saat ini, Nana mengaku sama sekali tidak terlalu risau. Sebab produk-produknya 100 persen dijual ke pasar domestik. “Jadi tidak terlalu terpengaruh dengan krisis global,” imbuhnya.

Untuk mengantisipasi kebosanan pelanggannya, Nana terus memacu kreativitasnya. Dalam satu minggu, misalnya, paling sedikit dimunculkan satu atau tiga model boneka terbaru.

Soal merk, ayah dari Agin Bayu ini mengaku tidak memberikan label khusus bagi boneka-boneka produksinya. “Kita tidak punya brand.

Sebab percuma saja, setiap kita kasih merk pasti dilepas oleh para pedagang,” ujarnya sambil tertawa.

Nana juga berencana bakal memanfaatkan internet untuk memasarkan produknya. Ancang-ancang pembuatan website pun disiapkan. ” Ini salah satu strategi bisnis agar para buyer bisa lebih mudah melakukan transaksi dan mengenal produk kami. Apalagi, saat ini kami sudah memproduksi 30 ribu buah boneka setiap bulannya dan dipasarkan ke seluruh kota di Indonesia,” paparnya. Ambisinya saat ini membuat boneka robot. Produk tersebut ditujukan sebagai salah satu strategi untuk masuk ke dalam pasar global ke luar negeri. “Dengan boneka robot, diharapkan bisa bersaing dari negara lain,” tandasnya.

Untuk kepentingan itu, Nana mengajak para ahli desainer bekerja sama mewujudkan impiannya. “Saya menantang bagi para ahli mau bekerja sama mewujudkannya,” cetus Nana yang mengaku tengah menulis buku.

SUMBER : RADAR BEKASI RABU, 4 FEBRUARI 2009

Industri Kerajinan Terus Berkurang

JUMLAH perajin boneka di Bekasi, terus berkurang. Jika pada masa jayanya, jumlah perajin di sentra tersebut mencapai ratusan orang, saat ini hanya tersisa perajin yang masih punya ide kreatif dan modal.

Pengusaha boneka Nana Anang Sujana mengatakan, berkurangnya jumlah perajin tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, Ia menilai, selain masalah permodalan, ketidak jelian dalam menangkap peluang pasar merupakan kendala utama dari pengembangan sentra tersebut.

Ia mengungkapkan, meski beberapa perajin kerap sulit mendapatkan pinjaman dari bank karena terbentur persyaratan, hal tersebut masih dapat disiasati. Salah satunya, degan mengoptimalkan modal yang dimiliki. Selain itu, ada juga beberapa perajin yang memperoleh modal dari sejumlah perusahaan.

“Kendala utamanya bukan seratus persen terletak pada permodalan saja. Akan tetapi, juga kepada kemampuan untuk membaca peluang serta keinginan pasar yang ada,” kata Nana yang ditemui di Jalan Lumbu Timur Raya Blok X No. 20, Bojong Rawalumbu, Kota Bekasi.

Nana menambahkan, kerajinan boneka itu harus kaya dengan inovasi dan kreasi. Alasannya, boneka itu hampir mirip dengan mode baju yang setiap saatnya terus bergulir sesuai tren. “Oleh karena itu, untuk bisa berkembang, inovasi dan kreasi menjadi syarat utama,” ucapnya.

Menurut Nana, hingga saat ini, pelatihan untuk mengembangkan kemampuan pembuatan boneka masih belum terlalu sering dilakukan. Nana berharap, agar setiap pengusaha lebih sering mengkiuti pelatihan, selain pelatihan juga diperlukan membaca peluang dan kualitas produk.

Nana pun berharap agar Pemerintah Kota Bekasi turut serta dalam pemasaran produk dari sentra tersebut. Ia mencontohkan, misalnya melalui kerjasama dengan Dinas Pariwisata untuk membuka jalan memasukkan produknya ke hotel-hotel.

“Kami sih inginnya, jika memungkinkan, ada sarana untuk promosi.” harapnya.

Sejumlah usaha kerajinan khas di kota Bekasi, Jawa Barat terpaksa menghentikan kegiatan produksi akibat menurunnya daya beli konsumen di samping produk yang kalah bersaing di pasaran. Jika masalah ini tidak segera ditanggulangi bisa terjadi kebangkrutan massal di sektor industri rumahan dan Usaha Kecil Menengah (UKM) sebagai dampak krisis ekonomi global.

Sebagian jumlah pengrajin khusus boneka, terpaksa menghentikan kegiatan operasional produksi. Faktor penyebabnya, gara-gara krisis ekonomi global belum berakhir, sehingga mereka belum bisa kembali berproduksi.

Pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) kota Bekasi akan mengkaji penghentian produksi industri kerajinan tersebut. Bila persoalan terkait permodalan, akan dicarikan solusi. Jika menyangkut mutu, diperlukan pelatihan.

Namun demikian masih dianggap wajar bila dari 84.000 industri boneka dan UKM di Kota Bekasi, ada beberapa yang tidak lagi berproduksi. Sebab usaha skala besar yang sudah ekspor sekalipun cukup banyak yang mengurangi aktivitasnya, bahkan berhenti beroperasi.

Dari industri kerajinan dan UKM di kota Bekasi, cukup banyak menyerap tenaga kerja dan penopang pertumbuhan ekonomi di daerah. Bahkan jumlah industri dan UKM terus meningkat secara signifikan atau mencapai lima sampai tujuh persen per tahun. Pengelola industri kerajinan dan UKM di kota Bekasi saat ini tengah melakukan pendataan menyangkut jenis usaha, volume, aset, peralatan, omset, pasar, kualitas SDM pekerja dan pemilik usaha.

Jika formulir yang digulirkan diisi dan dikembalikan kepada petugas, akan menjadi dasar pendataan yang lebih akurat dalam mengambil kebijakan mengantisipasi kebangkrutan massal di sektor industri kerajinan khas kota Bekasi dan UKM.

Sayangnya, data yang tersedia di pemerintah kota Bekasi tentang pertumbuhan industri kerajinan dan UKM belum lengkap, kata Nana Anang Sujana sebagai pengusaha boneka di kota Bekasi.

Tidak tersedianya data lengkap dari pelaku usaha yang tergolong kecil, kemudian berkembang jadi menengah, menjadi kelemahan dalam mengambil kebijakan yang tepat. Akibatnya, kebijakan yang diambil masih dalam bentuk asumsi belaka.

“Meraka bahkan tidak tahu berapa jumlah pelaku usaha sejak dari skala menengah berubah menjadi perusahaan besar atau UKM yang bangkrut akibat salah manajemen,” kata Nana.

Berdasarkan data Dinas Perindag memperkirakan, aset sekitar 84.000 industri kerajinan dan UKM di kota Bekasi, mencapai Rp 900 miliar lebih dengan penjualan per tahun mencapai Rp 2 triliun dengan keuntungan sebesar Rp 300 miliar. Berarti cukup besar untuk menyerap tenaga kerja jika industri kerajinan dan UKM tidak gulung tikar sebagai dampak krisis ekonomi global yang menerpa negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang, India, China dan Sinagpura.

Dalam beberapa kesempatan, Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad, kerajinan boneka di kota Bekasi, dapat kembali menggeliat untuk mendukung peningkatan perekonomian warga sekitar. Selain itu, hal ini juga menjadi salah satu tujuan wisata lainnya di Kota Bekasi.

Page 50 of 82« First...102030...4849505152...607080...Last »