Rahasia Penjual Jamu

67penjual jamu“Jamu… jamu… jamunya, Mbak. Mas?” Suara itu terdengar tidak asing di telinga saya. Ibu saya langsung membuka pintu dan keluar rumah.

“Sudah lama juga tidak meminum jamu. Mau ah sekali-kali.” Pikir saya.

Sesampai di luar rumah ada beberapa orang tetangga yang sedang menikmati jamu. Satu persatu menenggaknya dengan nikmat. Ada yang merem melek, ada pula yang biasa saja, seperti minum air putih. Kita semua pasti tahu manfaat jamu untuk tubuh. Jamu yang di minum tentu bukan jamu kemasan tapi jamu yang dibuat sendiri seperti kunyit, kencur dan lain sebagainya.

Di tengah ramainya penjual jamu instan yang membuat dengan cara di blander, jamunya ditambah dengan gula biang dll. Penjual jamu ini berkembang dengan caranya sendiri. Seolah tak mau ikut-ikutan meramaikan perkembangan jaman, jamunya masih diolah dengan cara tradisional. Dia membuatnya tidak pakai gula biang—saya sering menemui beberapa penjual yang rasa jamunya sudah bercampur gula biang—yang membuat tenggorokan tidak nyaman. Keaslian jamu buatan Ibu itu yang membuat ia bertahan sekian lama menjadi penjual jamu yang dicintai pelanggannya.

Selain itu ada hal unik lainnya. Dia masih mengenakan pakaian penjual jamu zaman dulu. Masih dengan sarung (yang biasa dikenakan wanita, saya lupa namanya), kebaya dan rambut disanggul. Mungkin kita bertanya-tanya. Mengapa zaman sudah se-modern ini masih ada yang menggunakan pakaian seperti itu? Apa nggak ribet? Buat dia itu sudah jadi kebiasaan, jadi susah diubah. Semacam seragam untuk kerja. Tapi jika di rumah pakaiannya seperti biasa.

Ada lagi yang unik, ia ramahan dan baik, tidak ada yang berubah dari ibu ini. Ibu penjual jamu ini masih tampak muda di usianya yang kurang lebih sudah menginjak 50 tahun. Di usia yang tidak muda lagi ia masih mencari nafkah untuk keluarga, entah suaminya masih ada atau tidak saya tidak tahu pastinya. Dia punya rumah sendiri di kampung. Di Jakarta dia mengontrak. Perjalanan mengajarkan banyak hal. Yang konsisten yang akan berhasil. Sekecil apapun yang dilakukan, akan berbuah.

Apa rahasia awet muda dia? silakan tanyakan sendiri padanya. Hehehe

Bercermin

7bercerminMasyarakat media sosial tumbuh begitu pesat, berbagai kalangan hadir meramaikannya. Ada sisi baik dan buruk di dalam sebuah penemuan. Ya, itu juga yang ada di terjadi di media sosial. Sisi positifnya, kita bisa dapatkan banyak ilmu gratis dan juga informasi yang begitu cepat. Melebihi cepatnya berita tv dan radio. Kita dapat berbagi apapun yang kita mau, entah itu curhatan, ilmu dan lain sebagainya. Sisi negatifnya ternyata media sosial melahirkan banyak sekali orang-orang yang mudah sekali menghakimi seseorang atau kelompok & sering kali kata-kata kotor keluar dari tulisan-tulisan mereka.

Kadang yang terjadi sebenarnya hanya kesalahpahaman, menyimpulkan hanya dari kata-kata yang singkat, malas membaca keseluruhan dan lain sebagainya. Memang keterbatasan karakter membuat ruang gerak menjadi sempit. Akun-akun pencela tumbuh begitu pesat. Entahlah, apakah kebencian sudah menyebar begitu cepat mengalahkan kebaikan? Satu orang berbuat salah dihakimi, tapi apakah telah melihat kebaikan-kebaikan yang sudah diperbuat orang tersebut? Kadang kita dibutakan oleh hal-hal yang kadang tak penting untuk dibahas.

Alangkah baiknya kita ambil yang baik, buang yang buruk. Namanya juga opini orang, belum tentu 100% benar. Ya, memang kalau salah harus diluruskan, tapi cobalah sampaikan dengan santun tanpa harus mencaci maki. Pernahkah berfikir jika kita yang berada di posisi orang tersebut? Apa perasaan kita? Sebelum mengomentari seseorang ada baiknya kita bercermin kembali pada diri kita yang (mungkin) sangat-sangat jauh dari kata sempurna. Melihat kembali, “apa saya sudah jauh lebih baik dari orang tersebut?”

Kata Ustad Salim A. Fillah: “Di antara bentuk kasih Allah pada orang yang jatuh dalam dosa ialah banyaknya penggunjing. Mereka menghadiahkan pahala & mengurangi dosanya. Di dunia nyata & maya; banyak hal menarik untuk ditanggapi. Tapi jernihlah memutuskan; tanggapan atau diam kita yang kan mengantar ke surga. Terjaminkan rumah surga dari bawah ke atasnya bagi yang; hindari debat walau dirinya tepat, jauhi dusta walau bercanda, & ahli akhlaq mulia.

Risiko menyampaikan opini adalah dipuji atau dicaci. Susah membuat semua orang senang di dunia ini. Jadi jalani saja apa yang menurut kita benar dan tak keluar dari jalur yang sudah ditetapkanNya.

Page 4 of 82« First...23456...102030...Last »