Saat Harus Menangis

2nasehat hebat_saat harus menangis“Sudah, jangan cengeng!” Itu adalah kata-kata atau nasihat yang selalu kita dengar sewaktu masih kecil. Terutama setelah jatuh atau diledek anak lain. Dan betapa girangnya hati ketika kita dijuluki jagoan, karena menghadapi masalah tidak dengan air mata.

Semakin dewasa, menjadi tegar ketika tertimpa permasalahan adalah keniscayaan bagi pribadi yang ingin dianggap kuat. Tidak berkeluh kesah dan cengeng. Kesannya maskulin banget, terutama buat laki-laki. Karena itu menangis sering diartikan ketidakmampuan atau kelemahan.

Tapi tahukah kita bahwa ketika menghadapi masalah apalagi yang cenderung berat, seperti tertimpa musibah atau kehilangan sesuatu yang kita sukai, bisa membuat stress. Reaksi tubuh kita pun akan meresoon stressor itu dengan mengeluarkan hormon teetentu. Misalnya hormon kortisol yang membuat tekanan darah naik dan mempercepat denyut jantung. Atau bisa juga timbul gejala-gejala penyakit psikosomatis, seperti maag, dan lain-lain.

Agar tidak berlanjut menjadi kondisi yang semakin serius, perlu bagi kita untuk menenangkan diri. “Menangislah.” Kata nasihat bijak. Beberapa orang tersenyum nyinyir mendengar itu. Tapi sebagai tahap pertama mengurangi stres, menurut riset dan pengalaman, mengeluarkan air dari mata bisa mengurangi tingkat depresi dan juga bisa membuat perasaan lebih baik.

Bahkan menurut para ilmuwan, menangis bisa memicu keluarnya endorfin, hormon yang membuat kita merasa nyaman. Tak heran jika setelah menangis, kita merasa lebih tenang dan lega.

Menangis tidaklah dilarang, justru dianjurkan jika dilakukan dalam porsi yang wajar. Menangis tidak hanya menyembuhkan luka. Menangis juga bisa memotivasi kita untuk bangkit kembali dalam menata kehidupan. Menangis tidak berarti cengeng. Menangis itu terapi sederhana dalam menyelesaikan masalah.***

Mengatasi Jenuh

24nasehat hebat_mengatasi jenuhSebagian dari kita pasti pernah diserang rasa ‘jenuh’. Mulai bosan dengan aktifitas harian yang biasa kita jalani, enggan melakukan ini dan itu. Seolah ingin hidup segera berakhir saja. Mungkin semua itu terjadi efek pekerjaan yang menumpuk, tugas sekolah atau kuliah yang banyak serta masalah-masalah lainnya yang mengganggu pikiran kita. Banyak waktu yang terbuang sia-sia tanpa ada sesuatu yang diselesaikan.

Salah satu penyebabnya mungkin karna kurangnya liburan. Hari-hari kita hanya habis untuk bekerja, kuliah dan lain sebagainya—monoton. Sehingga tidak punya waktu untuk memanjakan diri—tidak memberi waktu untuk diri sendiri lebih tepatnya. Kita kadang terlalu sibuk mengejar target kehidupan, sehingga melupakan hal penting untuk diri. Melihat, mendengar atau membaca cerita teman-teman yang habis liburan, kadang iri. Tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa karna tuntutan pekerjaan yang mengekang.

Kita larut dalam ke jenuhan. Sehingga kejenuhan itu menjalar ke mana-mana. Akhirnya kita menumpahkan kejenuhan di media sosial yang membuat orang tak suka melihatnya. Kita jadi dinilai sebagai orang yang suka mengeluh dan pemarah. Dan terkadang juga melampiaskannya kepada orang di sekitar kita. Ya, memang penilaian manusia itu nomer sekian, yang terpenting adalah penilaian yang Mahakuasa. Tapi, alangkah baiknya jika kita bisa baik di mata manusia maupun yang maha kuasa—meskipun kadang sulit.

Seperti itulah jenuh. Apa saja tidak enak dilakukan, tidur pun tak nyaman.Tak ada perubahan yang berarti, yang ada hanya penundaan demi penundaan, yang pada akhirnya malah memperlambat proses untuk mencapai target yang kita inginkan.

Seperti itulah hidup. Harus tetap kita jalani apapun kondisinya. Karna masa depan kita bukan orang lain yang menentukan, tapi kita sendiri. Jadi kita harus bisa memilih, mana yang terbaik untuk masa depan kita. Ketika jenuh sudah menjalar ke mana-mana pastikan ia tidak meledak dan menyebabkan semua hancur berantakan. Jika kita tak punya banyak waktu untuk liburan. Cara paling mudah untuk membunuh kejenuhan adalah dengan berkumpul dengan teman-teman.

Meski di kantor, di kampus atau di sekolah kita bertemu teman-teman. Ternyata itu tidak membuat rasa jenuh hilang. Karna kita masih bertemu orang yang itu-itu saja dengan aktifitas yang itu-itu juga. Pikiran kita butuh di segarkan dengan hal-hal yang membuat kita senang. Ajaklah teman-teman lama untuk berkumpul.

Masa sudah capek bekerja masa harus bertemu lagi dengan orang? Atau weekend itu waktunya istirahan bukan untuk main-main. Percayalah saat bertemu dengan teman-teman. Perasaan senang akan datang pada diri kita. Saat kita mulai bertukar kata dengan mereka, rasa jenuh seakan rontok dari pikiran kita. Saat kita bertukar cerita seakan dunia saat itu milik kita bersama. Menukar jenuh dengan canda yang membuat tertawa.

Meski yang tampak oleh mata, pertemuan itu tak menghasilkan apa-apa. Di ruang lain yang mata tak dapat melihatnya, ada banyak hasil yang didapat. Saat kita berbagi kata dan cerita yang kadang mengundang senyum serta tawa. Percayalah semua yang baik itu akan menular termasuk senyum dan tawa. Begitu pula keburukan, semua yang buruk juga akan menular, seperti rasa jenuh. Ternyata kita salah menilai kalau liburan adalah salah satu cara untuk membunuh rasa jenuh. Ada hal yang lebih sederhana dari pada itu. Yaitu berkumpul dengan teman-teman lama. Dari mereka kita dapat menemukan salah satu cara apuh membunuh jenuh, yaitu berbagi cerita.

Page 2 of 8212345...102030...Last »