Ahli Tidur dan Ahli Makan 2

66Ahli MakanTerbit keraguan di hati sang Raja. Namun akhirnya sang Raja menuruti kemauan si Buntal dan si Bantal. Raja pun memerintahkan kepada para dayang untuk mempersiapkan ujian itu.

Pada hari yang telah ditentukan, Raja memanggil Buntal untuk menjalani ujian. Pada meja hidangan, telah disiapkan berbagai macam makanan yang enak dan lezat. Raja menitahkan pada si Buntal untuk memakan semua makanan itu. Si buntal pun dengan senang melaksanakan perintah sang Raja. Tanpa ampun, dia melahap semuanya, sampai tak bersisa.

Selesai makan, si Buntal dipanggil lagi menghadap sang Raja.
“Bagaimana makanan Istana, wahai Buntal?” tanya Raja harap-harap cemas, melihat Buntal sibuk mengusap-usap perutnya yang kekenyangan.
“Enak-enak semua, Paduka Yang Mulia. Namun sayang…”
“Kenapa Buntal? Apa yang salah?”
“Pada hidangan sop ikan, ada air hujan tiga tetes. Rasanya jadi hambar sedikit.”

Sang Raja terperangah. Segera dipanggilnya juru masak Istana.
“Benarkah, pada Sop Ikan ada setetes air hujan kau campur disitu?”
Juru masak Istana terkejut. Dengan gagap ia menjawab, “Tidak, Paduka, hamba tidak mencampurnya dengan air hujan.”
Mata sang Raja membelalak, namun sang juru Istana cepat melanjutkan bicaranya. “Tapi, memang dalam perjalanan dari dapur ke sini, gerinis turun tiba-tiba dan hamba terlambat menutup mangkoknya, hingga mungkin saja ada air hujan yang jatuh ke situ.”

Raja pun terkagum-kagum pada keahlian si Buntal. Kalau air hujan saja si Buntal bisa tahu, apatah lagi dengan racun? Raja pun menerima Buntal sebagai punggawa kerajaan, staff khusus ahli makanan.

(Bersambung)

Ahli Tidur dan Ahli Makan 3

91Ahli tidur 3Keesokan harinya Raja memanggil si Bantal. Raja menyuruh si Bantal tidur di tempat yang telah disiapkan oleh petugas Istana. Ada 7 lapis alas tidur dengan berbagai macam asal pembuatan. Tanpa banyak bicara, si Bantal pun tidur, dengan waktu yang telah ditentukan.

Waktu tidur pun habis. Bantal datang menghadap Paduka Raja.
“Bagaimana tidurmu, Bantal?”
Bantal tersenyum. “Senang, Yang Mulia. Baru kali ini hamba merasakan tidur dengan alas kasur Istana.”
Baginda Raja tertawa. “Apa yang bisa kau sampaikan kepadaku, Bantal?”
Bantal pun bertutur, “Lapisan paling bawah itu kasur dari kapuk, Yang Mulia. Kapuknya dari tanah Jawa. Lapis ke dua, kasur dari busa super, kirim langsung dari Singapur. Lapis ke tiga, kasurnya berisi sekam padi. Yang ke empat, kasurnya berisikan alang-alang. Kasur ke lima isinya dari bulu domba.”

“Kasur lapis ke enam, isinya dari daun nira yang dikeringkan, sedangkan kasur lapis paling atas, isinya dari bulu angsa.”

Sang Raja pun tercengang. “Lalu, apakah kau merasakan tidur yang nyenyak?”
Si Buntal tersenyum lagi. “Paduka, andai saja pada kasur kapuk, tidak ada tiga biji kapuk yang tertinggal dan pada kasur yang berisikan alang-alang, sebiji paku yang ada di ujung kasur sebelah kiri disingkirkan, tentu hamba bisa tidur nyenyak, Yang Mulia.”

Sang Raja pun langsung memerintahkan para pesuruh Istana untuk membongkar lapisan kasur yang dimaksud si Bantal. Benar saja, ada tiga biji kapuk dan satu paku terdapat pada lapisan kasur itu.

Raja pun tak banyak bertanya lagi. Si Bantal pun langsung bertugas menjaga Raja, staff khusus ranjang Paduka.

Apa yang bisa dipetik dari cerita ini?
Intinya adalah FOKUS. Buntal dan Bantal benar-benar menguasai apa yang menjadi kesukaannya, kebiasaannya. Barangkali orang lain akan menyebut TIDUR dan MAKAN sebagai kekurangan. Namun Buntal dan Bantal membuktikan, bahwa apa yang menjadi hobi, pasti bisa diasah menjadi keahlian, asal tekun dan fokus.

Page 10 of 82« First...89101112...203040...Last »