Diam Itu Emas

80nasehat hebat_diam itu emasTerkadang kita sering menjadi motivator gadungan. Sibuk memotivasi orang lain, tanpa tahu orang itu ingin diberi motivasi atau tidak. Sehingga membuat sebagian orang terganggu. Memberikan nasihat, memang lebih mudah ketimbang menjalani. Apalagi harus merasakan apa yang dirasakan orang tersebut—pastilah tidak bisa. Melakukan tak semudah mengucapkan atau menuliskan. Ucapan dan tulisan harus sama dengan tindakan, dan itu tidak gampang. Jangan sampai tindakan kita tidak sama dengan apa yang telah kita tulis dan ucapkan.

Menulis dan mengucapkan kata-kata motivasi sesungguhnya sangat baik. Agar hari-hari kita dipenuhi kata-kata positif. Menjauhi kata negatif yang dapat merusak hari yang (mungkin akan) indah. Jika ada yang ikut berubah, bersyukurlah. Tapi jika ada yang tersinggung biarkan saja toh kita tak pernah bermaksud menyakitinya. Kita melakukannya untuk diri sendiri. Manusia (memang) tempatnya salah, kita pun tak luput dari salah. Yang pasti, kita tak bermaksud menyinggung atau menyakiti siapapun. Itu semata-mata untuk diri kita sendiri. Tidak mengajari atau menggurui siapapun.

Kalau kita belum bisa kasih bukti. Lebih baik kita diam dan bekerja. Karena orang hanya akan selalu melihat siapa yang berbicara bukan apa yang dibicarakan.”Ah, kamu nasihatin orang terus. Mana karyamu?”

Mungkin itulah mengapa ada ungkapan “diam itu emas” artinya kita disuruh produktif, bukan lebih sering berkomentar. Jadi pemain, bukan hanya jadi penonton. Berbicara untuk hal penting dan baik. Biarkan karya yang berbicara. Belajar lebih banyak lagi, berlomba-lomba untuk terus meningkatkan prestasi, bukan membuat sensasi.

Komentar